Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

26 April 2013

Hidup Itu Seperti Secangkir Kopi


Sekelompok alumni – yang semuanya tengah menduduki karir gemilang – mengadakan reuni di rumah seorang profesor yang dulu mengajar mereka. Setelah bertegur sapa, obrolan segera beralih menjadi keluhan tentang stress dalam pekerjaan dan kehidupan mereka.

Sang profesor pergi ke dapur dan kembali membawa nampan berisi satu teko besar kopi dan bermacam-macam cangkir – ada yang terbuat dari porselen, plastik, kaca, maupun kristal. Ada yang biasa dan murahan, ada yang mahal, ada pula yang indah bentuk rupanya.

Ketika semua muridnya telah memegang secangkir kopi di tangan, profesor itu berkata, "Coba perhatikan, semua cangkir yang mahal dan indah sudah kalian pilih. Sisanya tinggal cangkir yang biasa dan murahan. Memang normal dan wajar jika menginginkan yang terbaik dalam hidup kalian. Namun sebenarnya di situlah sumber persoalan dan stress kalian."

"Percayalah bahwa cangkir itu tidak menambah kualitas rasa kopi kalian. Yang kalian inginkan adalah kopi, bukan cangkir, tapi kalian dengan sengaja mencari cangkir yang terbaik ... sambil saling melirik cangkir satu sama lain."

"Sekarang pertimbangkan ini, hidup adalah kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkir. Cangkir itu hanyalah alat untuk menampung Kehidupan. Apapun jenis cangkir yang kita miliki tidak membentuk atau mengubah kualitas hidup kita. "

"Kalau kita menaruh perhatian pada cangkirnya saja, kita tak akan bisa menikmati sedapnya kopi. Orang-orang yang paling berbahagia tidak memiliki semua hal yang terbaik. Namun mereka menjadikan yang terbaik dari semua hal yang mereka miliki. Jadi, nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya!"

“Silakan, tuang sendiri kopinya ya,” ucap pak profesor.perhatian pada cangkirnya saja, kita tak akan bisa menikmati sedapnya kopi. Orang-orang yang paling berbahagia tidak memiliki semua hal yang terbaik. Namun mereka menjadikan yang terbaik dari semua hal yang mereka miliki. Jadi, nikmatilah kopinya, bukan cangkirnya!"

“Silakan, tuang sendiri kopinya ya,” ucap pak profesor.

01 Maret 2013

Anak Katak & Hujan


Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. “Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap?” ujar anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. “Anakku,” ucap sang induk kemudian, “itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik,” jelas induk katak sambil terus membelai dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, pemandangan yang begitu menakutkan bagi si katak kecil. “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?” tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

“Anakku, itu cuma angin,” ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. “Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang,” tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

“Blarrr!” suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya tapi juga gemetar. “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali,” ucapnya sambil terus memejamkan mata.

“Sabar, anakku,” ucapnya sambil terus membelai. “Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang,” ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, “Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!”

Anugerah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian yang harum. Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

04 Januari 2013

Kisah Sebatang Pensil



Seorang bocah memperhatikan neneknya menulis surat. Suatu ketika ia bertanya, “Apakah nenek menulis tentang apa yang sudah kita kerjakan? Apakah kisah tentang aku?”

Nenek berhenti menulis. “Ya, aku memang sedang menulis tentang kamu,” ujarnya, “tetapi, yang lebih penting, adalah pensil yang kupakai. Aku berharap kau akan seperti pensil ini kelak jika kau dewasa.”

Bocah itu mengamati pensil nenek. Tidak ada yang istimewa.

“Tapi pensil itu tidak beda dengan pensil-pensil yang pernah kulihat!”

“Itu tergantung caramu memandang sesuatu. Pensil ini punya lima hal yang jika kau bisa kelola secara baik dalam dirimu, kau akan jadi seseorang yang senantiasa berdamai dengan dunia.”

“Pertama, kau mampu melakukan hal-hal besar, tapi jangan lupa bahwa ada tangan yang membimbing langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan dan Dia selalu membimbing kita menurut kehendakNya.”

“Kedua, sesekali aku mesti berhenti menulis dan meraut pensilku. Pensil ini akan menderita sejenak, tapi setelah itu, ia akan makin tajam. Kamu juga begitu, kau harus belajar menahan luka dan kesedihan karena itu akan membuatmu jadi seseorang yang lebih baik.”

“Ketiga, pensil memungkinkanmu menghapus tulisan yang salah. Artinya, membetulkan kesalahan bukanlah sesuatu yang buruk. Ia membantu kita agar tetap berada di jalan yang adil.”

“Keempat, yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah kayu bagian luarnya, tetapi grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang terjadi di dalam dirimu.”

“Terakhir, atau yang kelima, pensil selalu meninggalkan jejak. Dengan cara sama, kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kamu lakukan dalam hidup ini meninggalkan bekas. Karena itu, sadarilah setiap tindakanmu.”